BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Anemia adalah salah satu penyakit yang menyerang pada semua usia, tanpa kecuali pada anak-anak. Anemia sering ditemui sebagai gejala awal yang didapat pada kebanyakan kasus hematologi. Kebanyakan pasien anemia di RSDK berasal dari kalangan sosial ekonomi lemah, dikarenakan faktor tidak diperhatikannya jenis makanan yang dikonsumsi anak, sehingga nilai gizinya kurang.
Anemia pada anak-anak pada umumnya dilihat sebagai suatu masalah biasa, dan bukan sesuatu yang harus serius ditangani segera. Orang tua masih banyak yang beranggapan selama anak masih bisa bermain dan tidak mengeluh sakit / rewel, anak berarti sehat.
Insidensi anemia biasanya dikategorikan berdasarkan jenisnya, karena akan memberi gambaran yang berbeda. Anemia aplastik dapat timbul pada sembarang usia, dan 50% kasus bersifat idiopatik. Anemia defisiensi diderita 3 % - 24% bayi berusia 6-24 bulan. 29%-68% bayi usia 6-24 bulan mengalami defisiensi zat besi. Insidensi defisiensi besi dan anemia pada remaja putrii adalah 11%- 17%. Puncak insiden anemia defisiensi besi adalah usia 12-18 bulan. (Bert & Linda, 2002).
Anemia merupakan penyakit yang perjalanannya kronis, lama dan mengakibatkan beberapa gangguan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Oleh karena itu, penulis ingin memahami lebih dalam tentang anemi pada anak melalui kontrak belajar.
B. TUJUAN KONTRAK BELAJAR
1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan kontrak belajar, saya mampu memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan anemia.
2. Tujuan khusus
Setelah saya menyelesaikan kontrak belajar, saya mampu :
1. Memahami pengertian anemia
2. Memahami penyebab terjadinya anemia.
3. Memahami tanda dan gejala anemia
4. Memahami pemeriksaan diagnostik pada kasus anemia
5. Memahami penatalaksanaan kasus anemia
6. Memahami masalah keperawatan yang sering muncul pada anak dengan anemia.
7. Memahami dan memberikan tindakan keperawatan ada anak dengan anemia
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. PENGERTIAN
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah.1997).
B. PENYEBAB ANEMIA
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut:
1. Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan.
2. Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah.
3. Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi, infeksi –malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.
4. Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).
C. TANDA DAN GEJALA
1. Tanda-tanda umum anemia:
a. pucat,
b. tacicardi,
c. bising sistolik anorganik,
d. bising karotis,
e. pembesaran jantung.
2. Manifestasi khusus pada anemia:
a. Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
b. Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional.
c. Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat.
2. Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :
a. Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
b. Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan total naik, urobilinuria.
c. Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan.
E. PENATALAKSANAAN
a. Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.
b. Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
c. Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat.
F. MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.
2. Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya selera makan.
G. TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Perfusi jaringan adekuat
- Memonitor tanda‑tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa.
- Meninggikan posisi kepala di tempat tidur
- Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri.
- Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah
- Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin.
- Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebutuhan tubuh.
- Memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
2. Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas
- Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.
- Memonitor tanda‑tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).
- Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika teladi gejala‑gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan).
- Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari hari sesuai dengan kemampuan anak.
- Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak di rumah.
- Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.
- Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemampuan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang tua dan sekolah.
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat
- Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
- Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
- Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
- Mengevaluasi berat badan anak setiap hari.
BAB III
RESUME
A. STUDI KASUS KLIEN
Anak D, perempuan, 5 tahun, diagnosa medis anemia hepatoseplenomegali, dengan keluhan utama saat pengkajian (20-10-2003) sesak nafas, perut sebah, badan terasa lemah, kepala pusing, mual, muntah, nafsu makan menurun. BB : 17 kg, TB : 112 cm. T: 100/70 mmHg, N: 80x/mnt, RR: 24x/mnt, S: 36,8C.
Riwayat kesehatan pada saat klien masuk RS Kariadi (18-10-2003) adalah klien muntah darah dan klien sering mimisen tanpa sebab. Terapi yang telah diberikan pada An. B adalah : O2 2 liter/menit, Colistin 3 x 900.000 iu, Vit Bc 3 x 1 tab, Alupurinol 3 x 90 mg, Metronidazol 3 x 70 mg, Infus D 5% 960/40/10 tts/mnt, Cefotaxim 3x500 mg, tranfusi.
Pada anak F ditemukan masalah keperawatan: resiko gangguan perfusi jaringan, resiko infeksi, resiko syok, perubahan nutrisi kurang, intoleransi aktivitas. Didukung oleh adanya data Hb: 8,1 mg/dl, Ht: 31,6%, leukosit: 2900/dl, trombosit 6000/dl.
B. DISKUSI DENGAN EXPERT
Dari hasil diskusi penulis dengan expert 1 (residen anak) dijelaskan bahwa untuk menegakkan suatu diagnosa anemia memerlukan pemeriksaan diagnostik yang sesuai. Misalnya pada anemia aplastik perlu dilakukan BMP. Sedang pada anemia hemolitik biasanya dengan preparat hapus, ikterik eritrosit lisis berlebihan, bilirubin meningkat, dan anemia perdarahan secara umum karena operasi, persalinan perdarahan kecelakaan dan lain lain. Dijelaskan pula bahwa pokok permasalahan anemia sesuai dengan penyebabnya, misalnya pada anemia aplastik dimana terjadi gangguan produksi sel darah, sehingga tanda utamanya berupa pansitopenia dimana eritrosit turun, trombosit turun, leukosit turun. Penatalaksanaan yang diberikan juga sesuai dengan akar permasalahan yang ada. Untuk mengetahui penyebab anemia, riwayat kesehatan anak juga perlu sekali digali. Dalam hal ini, perawat dapat berperan penting dengan menggunakan komunikasi terapetik.
Dari hasil diskusi penulis dengan expert 2 (perawat anak), dijelaskan bahwa dari segi keperawatan yang dapat dilakukan dalam upaya pengelolaan /perawatan klien dengan anemia secara optimal untuk meningkatkan kondisi pasien adalah dengan upaya pemenuhan nutrisi yang mencukupi kebutuhan tubuh. Dengan diet tinggi kalori tinggi protein dan penyajian diet yang hangat untuk mengurangi rasa mual. Perawat selalu memotivasi keluarga dan klien untuk dapat terpenuhi kebutuhan nutrisinya. Selain itu diupayakan bahwa klien dengan masalah anemia dihindarkan dari penularan infeksi. Selain program pengobatan yang telah diintervensikan dari tim medis harus dapat dilaksanakan dengan baik.
C. PERMASALAHAN
Dalam rangka mengetahui penyebab anemia selain pemeriksaan diagnostik, sangat perlu untuk memahami riwayat kesehatan klien, informasi ini didapatkan dari keluarga sehingga perlu suatu komunikasi yang kondusif antara perawat dan keluarga klien. Bagaimana perawat menerapkan komunikasi terapetik untuk menggali informasi dari keluarga ?
Dengan turunnya kadar Hb, kondisi anak menjadi lemah serta terjadi penurunan imunitas anak, sehingga mudah terkena infeksi. Bagaimana upaya untuk menghindarkan klien dari penularan infeksi .
Usaha yang dapat diupayakan untuk dapat mendukung kondisi optimal klien selain pemberian obat adalah dengan upaya pemenuhan nutrisi yang mencukupi kebutuhan tubuh. Perlu diberikan diet tinggi kalori tinggi protein dan penyajian diet yang hangat untuk mengurangi rasa mual. Bagaimana pemberian diet pada pasien anemia ?
BAB IV
PEMBAHASAN
Untuk memahami penyebab anemia selain dengan pemeriksaan diagnostik kita perlu memahami riwayat kesehatan klien, apakah klien sudah pernah dirawat sebelumnya dengan penyakit yang sama ataukah klien baru pertama kali dirawat. Selain itu riwayat kesehatan waktu kecil juga perlu kita dapatkan. Hal tersebut dapat kita peroleh melalui keterangan dari keluarga klien. Hal ini membutuhkan komunikasi yang baik antara perawat dan keluarga klien. Komunikasi terapetik perlu diterapkan pada permasalahan ini. Diharapkan dengan komunikasi yang baik dan terus berkesinambungan antara perawat dan keluarga akan membantu proses penyembuhan klien. Perlu dipahami anak bukan miniatur orang dewasa, tetapi yang paling sering didapati adalah anak yang sakit, maka orang tua merasa disalahkan terutama ibu oleh ayah / suaminya. Sehingga kita sebagai perawat harus pandai mengatur tehnik-tehnik komunikasi yang dapat dilakukan. Tehnik yang digunakan untuk melakukan pengkajian pada anak D adalah pertanyaan terbuka, kemudian listening dan diam. Terakhir perawat dapat menggunakan tehnik klarifikasi. Tidak ketinggalan bahwa melalui komunikasi perawat akan mendapat berbagai macam hal positif dari keluarga. Keluarga akan merasa nyaman bercerita pada perawat akan kondisi anaknya, keluarga tidak takut / malu bertanya mengenai cara perawatan anaknya dan keluarga menjadi dekat dengan perawat. Dan hal itu sangat menguntungkan perawatan, karena dengan kedekatan antara pasien, keluarga dengan perawat akan sangat membantu tercapainya tujuan asuhan keperawatan.
Upaya untuk mencegah terjadinya resiko infeksi pada penderita anemia masih kurang optimal. Dalam pelaksanaan prosedur tindakan seringkali kita tidak mengindahkan untuk cuci tangan. Padahal cuci tangan adalah langkah awal untuk memulai suatu tindakan dengan menghindarkan resiko terjadinya kontaminasi. Selain itu penderita anemia di HND, dirawat bersama-sama dengan pasien dengan berbagai penyakit, termasuk infeksi. Hal-hal tersebut dapat memperburuk kondisi klien anemia yang sebelumnya kondisi klien anemia telah mengalami penurunan imunitas, dengan naik turunnya kadar Hb, kelemahan umum dan intake nutrisi yang kurang.
Diet yang dianjurkan adalah diet tinggi kalori tinggi protein serta makanan yang banyak mengandung zat besi. Namun seringkali dijumpai diet yang disajikan pada penderita anemia tidak mempertimbangkan nilai kalori dan proteinnya. Diet yang diberikan sama dengan diet untuk pasien lainnya. Karena dalam terapi yang diprogramkan hanya tertulis 3x lunak. Sehingga masalah nutrisi kurang mendapatkan perhatian. Diet yang disajikan kadang sudah dingin padahal klien dengan anemia mengalami masalah mual sehingga nafsu makan kurang dan intake makanan menurun. Hal tersebut dapat mengakibatkan menurunnya kondisi klien. Upaya yang telah dilakukan selain hal tersebut adalah menganjurkan keluarga klien untuk mencukupi kebutuhan nutrisi klien, namun kebanyakan dari mereka adalah klien dengan golongan sosial ekonomi bawah sehingga untuk penyediaan nutrisi pun hanya pas-pasan. Hal inilah yang kadang menjadi dilema dalam keperawatan, karena sebagian besar klien yang dirawat adalah mereka yang menggunakan kartu miskin atau sosial ekonomi yang rendah.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Ketrampilan untuk dapat berkomunikasi teraupetik bagi perawat sangat penting dan akan mempengaruhi keberhasilan asuhan keperawatan yang dilakukan, terutama apabila tehnik komunikasi tersebut tepat sesuai situasi dan kondisi klien .
2. Pencegahan resiko infeksi pada penderita anemia dapat dilakukan dengan memperhatikan teknik aseptik prosedur tindakan dan juga menghindarkan penderita kontak dengan sumber penularan infeksi.
3. Pemberian nutrisi / diet pada penderita anemia dengan memperhatikan kualitas (tinggi kalori tinggi protein) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kondisi kesehatan secara optimal dan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga terhindar dari resiko infeksi akibat penurunan imunitas.
B. SARAN / REKOMENDASI
1. Komunikasi merupakan awal kegiatan yang akan menunjang tercapainya suatu tujuan. Diharapkan, ketrampilan komunikasi terapetik oleh perawat dapat lebih ditingkatkan lagi, tidak hanya saat kita membutuhkan data, tetapi setiap saat, pasien membutuhkan, dan kita berinteraksi dengan pasien, perawat menerapkan tehnik komunikasi terapetik.
2. Untuk mencegah resiko infeksi atau memperburuk kondisi penderita anemia, sekiranya perlu diperhatikan kebiasaan cuci tangan dan penerapan prinsip aseptik dalam setiap prosedur invasif.
3. Penyediaan diet bagi penderita anemia kiranya memerlukan kolaborasi yang baik antara medis, keperawatan dan ahli gizi, selain itu perlu dukungan, keterlibatan / peran serta keluarga klien.
DAFTAR PUSTAKA
Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta, EGC.
Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. Cetakan I. Jakarta, EGC.
Suriadi, Yuliani R. (2001). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. Jakarta, CV Sagung Seto.
Tucker SM. (1997). Standar Perawatan Pasien. Edisi V. Jakarta, EGC.
Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.
FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.
Harlatt, Petit. (1997). Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta, EGC.
ACS. (2003). What is Anemia ?. Available (online) http: // www // yahoo / nurse / leucemia / htm.
Minggu, 12 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
kurang lengkap mas
BalasHapus