Perilaku Seksual Normal dan Abnormal
Konsep tentang normal dan abnormal dipengaruhi oleh factor social budaya, erilaku seksual dianggap normal apabila sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat dan dianggap abnormal apabila menyimpang dari kebiasaan yang ada di masyarakat.
Gangguan Identitas Gender
Gangguan identitas gender adalah perasaan gelisah yang dimiliki seseorang terhadap jenis kelamin biologisnya sendiri atau peran jenis seks kelaminnya sendiri.
Identitas jenis kelamin (gender identity) : keadaan psikologis yang mencerminkan perasaan dalam (inner sense). Didasarkan pada sikap, perilaku, atribut lainnya yang ditentukan secara kultural dan berhubungan dengan maskulinitas atau femininitas.
Peran jenis kelamin (gender role) : pola perilaku eksternal yang mencerminkan perasaan dalam (inner sense) dari identitas kelamin. Peran gender berkaitan dengan pernyataan masyarakat tentang citra maskulin atau feminim.
Criteria diagnostic gangguan identitas gender :
Identifikasi yang kuat dan menetap terhadap gender lain :
Berkeinginan kuat menjadi anggota gender lawan jenisnya (berkeyakinan bahwa ia memiliki identitas gender lawan jenisnnya)
Memilih memakai baju sesuai dengan stereotip gender lawan jenisnya
Berfantasi menjadi gender lawan jenisnya atau melakukan permainan yang dianggap sebagai permainan gender lawan jenisnya
Mempunyai keinginan berpartisipasi dalam aktivitas permainan yang sesuai dengan stereotip lawan jenisnya
Keinginan kuat mempunyai teman bermain dari gender lawan jenis (dimana biasanya pada usia anak – anak lebih tertarik untuk mempunyai teman bermain dari gender yang sama)
Pada remaja dan orang dewasa dapat diidentifikasikan bahwa mereka berharap menjadi sosok lawan jenisnya, berharap untuk bisa hidup sebagai anggota dari gender lawan jenisnya.
Perasaan yang kuat dan menetap ketidaknyamanan pada gender anatominya sendiri atau tingkah lakunya yang sesuai stereotip gendernya.
Tidak terdapat kondisi interseks
Menyebabkan kecemasan yang serius atau mempengaruhi pekerjaan atau sosialisasi atau yang lainnya
Gangguan identitas gender dapat berakhir pada remaja ketika anak – anak mulai dapat menerima identitas gender. Tetapi juga dapat terus berlangsung sampai remaja bahkan hingga dewasa sehingga mungkin menjadi gay atau lesbian.
Ganti kelamin
Sebelumtindakan operasi kelamin ada beberapa hal yang harus diperhatikan individu. Ada beberapa tahap yang harus dialaui sebelum tindakan operasi kelamin dilakukan. Tahap – tahap tersebut adalah :
evaluasi
memastikan kemantapan dalam mengambil keputusan. Jika terdapat delusi paranoid dalam memutuskan mengganti kelamin, maka ahli bedah harus menolak permintaanya
terapi hormon
orang yang ingin merubah dari pria menjadi wanita, estrogennya ditingkatkan untuk menumbuhkan karakteristik alat kelamin sekunder wanita. Sedangkan pada wanita yang ingin menjadi pria, hormon androgennya ditingkatkan untuk mengembangkan karakteristik alat kelamin sekunder pria.
sebelum perasi diwajibkan hidup selama satu tahun sebagai orang dari gender lawan jenisnya untuk memprediksi penyesuaian setelah operasi
untuk orang yan mengganti kelamin dari pria menjadi wanita, penis dan testis dibuang. Kemudia jaringan dari penis digunakan untuk membuat vagina buatan. Jika dari wanita menjadi pria, ahli bedah membuang oragan kelamin internal dan meratakan payudaranya dengan membuang jaringan lemak.
Faktor – faktor penyebab :
teori belajar menekankan tidak adanya figur seorang ayah pada kasus anak laki – laki menyebabkan ia tidak mendapatkan model seorang pria
teori psikodinamika dan teori belajar lainnya menjelaskan bahwa orang dengan gangguan identitas gender tidak dipengaruhi tipe sejarah keluarganya
faktor keluarga mungkin hanya berperan dalam mengkombinasikan dengan kecenderungan biologisnya. Orang yang mengalami gangguan identitas gender sering memperlihatkan gender yang berlawanan dilihat dari pemilihan alat bermainnya dan pakaian pada masa anak – anak
hormon pernatal yang tidak seimbang juga mempengaruhi. Pikiran tentang maskulin dan feminine dipengaruhi oleh hormone seks fase – fase tertentu dalam perkembangan prenatal.
Paraphilia
Merupakan gangguan seksual yang ditandai oleh khayalan seksual yang khusus dan sedakan praktek yang kuat, berulang kali dan menakutkan bagi seseorang. Pelaku menunjukkan rangsangan seksual dalam respon stimulus yang tidak biasa atau ganjil. Perilaku paraphilia disembunyikan oleh pelaku, menyakiti orang lain, merusak kemungkinan ikatan antara orang – orang. Pada beberapa orang rangsangan paraphilia bersifat sementara selama periode konflik atau stres.
Exhibisionisme
Dorongan yang kuat untuk menunjukkan alat kelaminnya pada orang lain, dengan tujuan mengagetkan, mengejutkan atau membangkitkan dorongan seksualnya sendiri. Hampir semua kasus ini terjadi pada pria. Orang yang didiagnosa mengalami exhibisionisme pada dasarnya tidak ada keinginan untuk melakukan hubungan langsung dengan korban. Beberapa penelitian menunjukkan exhibisioninme sebagai salah satu maksud ekspresi permusuhan secara tidak langsung kepada wanita. Laki – laki penderita exhibisionisme cenderung malu, bergantung, kurang bersosialisasi, enggan bergaul, dan kurang pengetahuan seks.
Fetishisme
Dalam kasus ini kekuatan magis dianggap mempunyai kemampuan untuk membangkitkan gairah seksual. Gejala fetishisme adalah kambuhan, dorongan seksual tinggi dan membangkitkan fantasi yang melibatkan objek benda mati. Misalnya pakaian dalam. Mereka sering mengalami kepuasan seks dengan melakukan masturbasi saat menemukan objek, menggosokkan dan menciumnya saat melakukan aktivitas seks.
Transvestic Fetishisme
Desakan yang kuat berulang dan berhubungan dengan fantasi melibatkan cross-dressing untuk tujuan pemenuhan seksual. Orang dengan kelainan fetishisme dapat puas hanya dengan menyentuh objek seperti pakaian dalam wanita saat masturbasi, sedangkan orang trasvestic fetishisme ingin memakai baju tersebut. Pada pria gay dan pria dengan kelainan identitas gender ditunjukkan untuk alas an lain bukan sekedar pemuasan seksual sehingga hal tersebut bukanlah bentuk dari trasvestic fetishisme. Menurut penelitian, trasvestic fetishisme hanya terjadi pada pria heteroseksual.
Voyeurism
Kepuasaan sekaul sengan diam – diam melihat orang lain telanjang atau melakukan senggama melalui lubang kunci atau lubang angin. Tujuan dari melihat ini adalah untuk mencapai rangsangan seksual. Orang yang mengalami voyeurism biasanya tidak mencari aktivitas seksual dengan orang lain selama observasi. Selama tindakan voyeurism biasanya masturbasi sambil melihat atau sambil berfantasi.
Frotteurisme
Desakan seksual yang kuat, berulang dan berhubungan dengan fantasi yang dilakukan dengan menggosok – gosokkan atau menyentuh orang lain tanpa ijin. Biasanya terjadi di tempat umum yang padat.
Pedophilia
Desakan seksual yang kuat, berulang, dan berhubungan dengan fantasi yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak – anak pra puber. Sumber pedophilia adalah stereotip yang lemah, pemalu, tidak bersosialisasi. Pria merasa lebih puas melakukan dengan anak – anak karena tidak mengkritik dan meminta. Beberapa orang pedophilia membatasi aktifitasnya dengan memandang atau melepas baju anak – anak, sedangkan lainnya melibatkan dirinya pada exhibisionisme, berciuman, bercinta, seks oral atau seks anal. Untuk diagnosa pedophilia paling tidak berusia 5 tahun lebih tua dari korbannnya.
Seksual Masochisme
Individu memperoleh kepuasan seksual lewat kesakitan pada diri sendiri. Seksual masochisme melibatkan desakan yang berulang dan berhubungan dengan fantasi yang berkaitan dengan tindakan seksual penghinaan, pemukulan, dan penyiksaan. Orang yang mengalami seksual masochisme tidak dapat mencapai kepuasaan seksual jika tidak ada rasa sakit atau penyiksaan. Tindakan masochisme yang paling berbahaya adalah hypoxyphilia, yaitu dimana orang tersebut terpuaskan dengan cara mengurangi oksigen atau memberikan tekanan di bawah dada saat melakukan aktifitas seksualnya.
Seksual Sadisme
Desakan seksual yang berulang dan behubungan dengan fantasi untuk berhubungan intim dengan memberikan kekerasan fisik atau penghinaan pada orang lain. Mereka mungkin mencari pasangan yang setuju seperti pada istrinya atau pelacur.
Paraphilia Lainnya
Telephone scatologia (berbuat cabul di telepon), necrophilia (fantasi atau desakan seksual dengan mayat), partialisme (terfokus pada bagian tubuh), zoophilia (desakan seksual atau kontak seksual dengan binatang).
Pandangan Teoritis
Teori psikodinamika
Banyak paraphilia sebagai pertahanan melawan kecemasan dari periode oedipus. Pria yang terjangkit paraphilia menghindari kecemasan paraphilia dengan merubah rangsangan seksual menjadi kegiatan – kegiatan yang aman.
Teori belajar
Paraphilia sebagai bagian dari pembelajaran, pengkondisian, atau observasi. Beberapa objek atau aktivitas yang tidak sengaja dihubungkan dengan rangsangan seksual yang selanjutnya bermanfaat untuk menimbulkan rangsangan seksual. Gangguan yang menyebabkan paraphilia mungkin juga melibatkan aspek biologis, psikologis, dan faktor sosial budaya. Model multifaktor yang mengakibatkan perkembangan paraphilia pada masa anak – anak, disarankan bahwa masa anak – anak sebaiknya memiliki pola tertentu atau love map yang dapat, menjadi program software di otak yang menerjemahkan bentuk – bentuk rangsang dan perilaku – perilaku yang menjadi rangsangan seksual seseorang.
Perawatan Paraphilia
Tokoh psikodinamika yang mencoba memecahkan masalah oedipus complex pada anak – anak dengan cara menyadarkan pada kepribadian orang dewasa.
Beberapa ahli terapi perilaku menggunakan kondisi keengganan (aversive) untuk menimbulkan reaksi emosional negatif pada stimulus perangsang paraphilia atau fantasi – fantasi.
Gangguan seks meliputi masalah – masalah dengan minat seks, rangsangan seks, atau reaksinya. Gangguan psikologis terjadi karena adanya sumber kesulitan hubungan antara seseorang dengan pasangan seksnya. Gangguan fungsi seksual melibatkan awal dan akhir dari alur respon seksual. Fase – fase tersebut adalah :
1. appetitive phase
meliputi fantasi dan gairah seks yang ikut serta dalam aktivitas seks
2. excitement phase
perubahan fisik dan perasaan nikmat yang terjadi selama proses perangsangan seks. Terjadi peningkatan denyut jantung, interval pernafasan, dan tekanan darah. Perangsangan seks meliputi dua reflek seksual yang penting, yaitu ereksi pada laki – laki dan perminyakan vagina pada wanita, selain itu payudara membengkak dan puting susu menjadi tegang
3. orgasm phase
saat ketegangan seks mencapai puncak dan dilepaskan maka terjadi kontraksi panggul dan perut yang disertai perasaan nikmat. Pada fase ini ereksi dan perminyakan merupakan reflek. Orang – orang dapat menata tingkatan untuk orgasme dengan menerima stimulasi seks yang cukup dan memiliki sikap menerima terhadap kenikmatan seks
4. resolution phase
relaksasi dan kepuasaan terjadi pada fase ini. Selama fase ini, secara psikologis pria tidak mampu lagi mencapai ereksi dan orgasme selama sebuah periode, namun wanita masih dapat mempertahankan kenikmatan seksualnya dengan melanjutkan rengsangan.
Gangguan Fungsi Seks
1. sexual desire disorder (gangguan gairah seksual)
Meliputi gangguan gairah seks hipoaktif dan gangguan seks aversif. Gangguan gairah seks hipoaktif dicirikan dengan tidak adanya atau kurangnya minat dan gairah seks.
2. sexual arousal disorder (gangguan rangsangan seksual)
Meliputi ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan respon – respon psikologisnya yang meliputi rangsangan atau kenikmatan seks (peminyakan vagina pada wanita atau ereksi pada pria) yang diperlukan untuk melengkapi aktivitas seksual.
3. gangguan orgasme
Gangguan orgasme mengacu pada penundaan secara terus – menerus dalam kenikmatan seksual, meliputi :
gangguan orgasme pada wanita
gangguan orgasme pada pria
ejakulasi dini, yaitu ejakulasi dengan sistem seksual yang minimal terjadi pada saat penetrasi tetapi sebelum pria menginginkannya
4. gangguan nyeri seksual
Dyspareunia dikaitkan dengan rasa sakit yang menetap dan berulang pada daerah genital pada saat melakukan hubungan seksual dan bukan disebabkan kurangnya lubrikasi vagina. Vaginismus adalah kejang otot di sekitar vagina ketika penetrasi vagina sehingga intercouse tidak mungkin dilakukan. Adanya gangguan ini membuat individu mencari kepuasan dengan hubungan yang tidak melibatkan penetrasi (stimulasi manual maupun oral).
Sudut Pandang Teoritis
Pada umumnya gangguan psikologis disfungsi seksual melibatkan faktor biologis, psikologis, dan faktor lainnya.
sudut pandang biologis
faktor biologis merupakan peranan penting dalam disfungsi. Produksi testosteron yang kurang dari aktivitas tiroid yang berlebihan / kurang dapat merusak aktivitas daerah seksual. Diabetes menyebabkan rusaknya respon seksual pada wanita karena lubrikasi vagina berkurang. Faktor biologis berkaitan dengan faktor psikologis dalam perkembangan masalah yang menetap karena :
kurangnya perhatian pada kedua pasangan dan menyebabkan kecemasan yang mempengaruhi respon seksual normal
kegagalan dapat memperkuat kesangsian yang akan menimbulkan kecemasan yang berlebihan
sudut pandang psikodinamika
berdasarkan pada anggapan konflik pada fase falik. Seksualitas yang matang dipercaya akan memperoleh kesuksesan pada electra dan oedipus complex. Gangguan orgasme secara tidak sadar mengurangi rasa bersalah dan ketakutannya. Ejakulasi yang cepat mengandung tujuan yang tidak disadari yaitu kebencian dan penolakan terhadap kenikmatan seksual.
sudut pandang belajar
berfokus pada peran kecemasan yang terkondisi dalam pperkembangan disfungsi seksual. Pengalaman buruk secara fisiologis diasosiasikan dengan aktivitas yang menyebabkan seseorang merespon pada menyatunya seksual dengan kecemasan, untuk menetralkan kecemasan seksual dengan penampilan.
Sexual abuse / pelecehan seksual atau pemerkosaan pada kasus – kasus ganggan seksual arousal yakni gangguan orgasme dan vaginismus. Gangguan ini dapat disebabkan oleh trauma masa kanak – kanak akan kesulitan merespon ketika membina hubungan intim. Akibat perasaan tidak berdaya, kemarahan yang tidak terselesaikan, salah menempatkan rasa bersalah, dsb.
Cara mempelajari tentang respon seksual melalui eksplorasi diri (seperti masturbasi) dengan membaca tentang teknik – teknik seksual, melalui pembicaraan film seks atau kaset video karena perasaan bersalahnya atau tentang seks masa kecil dapat menghilangkan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan seksual anak akibat larangan keras dari orang tua dan keluarga.
Terapi Seksual
Terapi seks menggunakan variasi yang relatif kecil seperti teknik perilaku kognitif yang terpusat pada penambahan pengharapan diri yang kuat, memperbaiki kemampuan pasangan untuk berkomunikasi, memelihara kecakapan seksual (pengetahuan dan keterampilan seksual) dan mengurangi perasaan cemas. Terapis juga berusaha membantu pasangan bermasalah untuk keluar dari problem hubungan seksual. Beberapa teknik terapi seks untuk perawatan disfungsi seksual :
gangguan hasrat seksual dengan membangkitkan hasrat dasar seks, kemudian membangkitkan nafsu seks dengan menggunakan rangsang sendiri atau masturbasi dan latihan bersama pasangannya dengan fantasi erotis
gangguan rangsangan dengan cara ketika seseorang dengan pasangan melakukan hubungan seks diusahakan dalam kondisi tidak tertekan agar tidak mengganggu rangsangan
kegagalan orgasme dengan program masturbasi dan dengan cara menggunakan latihan yang terpusat pada perasaan untuk mengobati ejakulasi dini. Latihan ini menggunakan dua teknik, yaitu :
teknik menekan (squeeze technique), ketika pasangan siap melakukan aktivitas seksual, pria secara berangsur belajar memperpanjang hubungan seksual tanpa ejakulasi
teknik stop – start / teknik stop and go, pria dan pasangannya menghentikan aktivitas seksual ketika pria akan berejakulasi dan melanjutkan apabila hasrat seksual mulai reda
terkadang kegagalan orgasme juga diobati dengan obat anti depresi yang membantu menunda ejakulasi didni
vaginismus yaitu menyempitnya liang vagina secara tidak sengaja. Ini bisa diatasi dengan menggunakan antara teknik relaksasi dan penggunaan batang yang dimasukkan dalam vagina yang diatur sendiri penempatannya oleh wanita tersebut
dyspareunia yaitu ketidakmampuan melakukan hubungan seksual disebabkan kondisi kesehatan, perawatannya dengan memecahkan kondisi kejiwaan atau kesehatan yang memberi reaksi terhadap rasa sakit.
Tampilkan postingan dengan label JIWA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JIWA. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Agustus 2009
ASSESMENT PSIKOLOGI
ASSESMEN PSIKOLOGI KLINIS
Menurut Mc. Reynold, 1975, assesmen ini pada dasarnya adalah usaha untuk mengukur individu dengan cara kembali ke belakang..
Menurut Kendall, 1982, assesmen klinis merupakan proses pengumpulan. informasi mengenai klien atau subyek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang.
Dalam proses assesmen ini, klinikus memilih metode assesmen dan melaksanakan, memeriksa serta menafsir informasi yang telah dihasilkan.
GAMBARAN UMUMA. Alasan Assesmen
Alasan assesmen secara umum yang terdiri atas tiga maksud sebagai berikut:
1. Penyaringan dan diagnosis
2. Evaluasi dan intervensi klinis
3. Riset
Assesmen klinis adalah menyajikan kepada seseorang, informasi mengenai dirinya sendiri, sehingga membuat keputusan bagi diri mereka sendiri.
B. Sasaran Assesmen
Kemungkinan sasaran atau target yang akan diusahakan psikolog klinis, ia dapat memusatkan perhatian terhadap:
1. Disfungsi (psikologis), individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek pikiran, emosi atau tindakannya.
2. Kekuatan klien, dalam hal kemampuan, ketrampilan atau sensitivitas yang menjadi target evaluasi.
3. Kepribadian subyek. Dalam hal ini bisa jadi ia akan menyelenggarakan tes, observasi dan interview untuk membantu menemukan kebutuhan, motivasi. pertahanan dan pola perilaku subyek.
C. Metode Assesmen
Psikolog klinis akan menggunakan satu ataupun kombinasi beragam metode assesmen yang meliputi wawancara, tes tulis terstuktur, tes tak terstruktur dan assesmen perilaku.
1. Wawancara
Dalam wawancara klinis pertama-tama adalah vokal, tetapi harus waspada mengenai pesan non verbalnya (seperti postur, gestur. dan ekspresi wajah).
Goldenberg, 1983, mengemukakan adanya empat tujuan umum wawancara klinis, ialah 1) memperoleh informasi tentang diri klien dan yang bersangkutan dengan hal itu, 2) memberikan informasi sepanjang dianggap perlu dan sesuai dengan tujuan wawancara, 3) memeriksa kondisi psikologis atau memberikan diagnosis klien dan 4) mempengaruhi, mengubah dan memodifikasi perilaku klien. Wawancara dengan dua tujuan terakhir disebut wawancara assesmen dan wawancara terapeutik.
Terdapat beberapa jenis wawancara, antara lain:
a. Wawancara mengenai status mental
b. Wawancara sosial-kfittis
c. Wawancara yang difraksikan
d. Wawancara terstruktur
2. Tes Terstruktur
Tes ini meminta subvek untuk menjawab pertanyaan secara tegas, ya atau tidak, dan maknanya uniform. Yang penting adalah memiliki reliabilitas dan validitas yang memadai dalam hal alat tesnya.. dan tendapat keseragaman dalam pelaksanaan tes maupun kejelasan subjek pengetesan atau biasa disebut testee.
3. Tes Tak Terstruktur,
Thematic Apperception Test (TAT) atau Rorschach Inkblot-test. Disebut tak terstruktur karena stimulus tesnya tidak membutuhkan jawaban yang ditentukan secara tegas dan jelas. Faktor pribadi testee sangat menentukan.
4. Assesmen-assesmen Keperilakuan (Behavioral Assessments)
Observasi ini dimaksudkan untuk: 1)mendapatkan informasi yang tidak diperoleh wawancara, 2) mengevaluasi ketepatan komunikasi verbal klien dan konsistensinya dengan komunikasi non-verbal dan 3) membuat kesimpulan' mengenai keadaan dalam, perasaan dan motivasi yang perlu mendapat perhatian khusus yang melahirkan perilaku klien.
5. Kunjungan Rumah
Memahami kehidupan alamiah klien di rumah dan keadaan serta pola kehidupan keluarga klien (relasi antar anggota keluarga dan perannya),
Terdapat enam keuntungan dari kunjungan rumah ini: 1) fungsi keseluruhan keluarga terlihat sebagaimana adanya, 2) setiap anggota keluarga lebih berpeluang untuk melaksanakan peran sehari harinya, 3) terdapat lebih sedikit kemungkinan untuk tidak hadirnya anggota keluarga dalam sesi terapi, 4) terdapat peluang untuk melihat seluruh keluarga dalam permasalahan, bukan hanya pada seseorang anggota saja, 5) terdapat kemungkinan untuk tidak merasa,cemas dalam lingkungan keluarga, sehingga lebih terbuka dan minimalnya perilaku dibuat-buat, dan 6) terapi yang berlaku terbebas dari hubungan formal dokter-pasien.
6. Catatan Kehidupan
Psikolog sering tertarik untuk mempelajari riwayat hidup klien, karena riwayat itu dapat mendasari permasalahan yang dialaminya saat ini. Catatan kehidupan ini bisa dalam bentuk buku harian yang berisikan catatan peristiwa kehidupan dan kesan-kesan pribadi yang diasumsikan membangun gambaran ini.
7. Dokumen Pribadi.
Bagi klinikus, adalah proyeksi yang dapat ditafsirkan Seperti dalam interview, yang diperlukan adalah keterampilan psikolog untuk menganalisis dan menafsirkannya.
8. Pemfungsian Psikofisiologis
Dalam gangguan psikofisiologis (gangguan psikosomatis) tercatat hampir semua organ tubuh dapat terganggu fungsinya oleh kondisi psikologis tertentu.
Tahap-Tahap dalam Proses Assesmen
Sundberg dan Tyler me njelaskan assesmen klinis dalam 4 proses besar, yaitu : Persiapan : dengan mempelajari masalah pasien, merundingkan penyerahan pertanyaan-pertanyaan dan merencanakan langkah-langkah yang lebih lanjut dalam assesmen.
Input : semua data tentang pasien dan situasinya yang dikumpulkan.
Ada 4 cara untuk mendapatkan informasi tentang seseorang, yaitu :
a. Tanya kepada orang itu sendiri Wawancara melibatkan memasukkan pertanyaan kepada klien yang mana isi mau dan bisa memberikan balasan langsung.
b. Tanya seseorang yang mengetahui orang tersebut
Teman, sahabat, keluarga, kekasih, guru, rekan kerja atau orang lain yang mengetahui informasi penting tentang seseorang dalam berbagai keadaan adalah sumber yang penting untuk mendapatkan informasi.
c. Amati individu ketika berperilaku secara normal
Untuk mendapatkan pengertian seluruhnya, pengamatan langsung serang klien dalam situasi kehidupan yang kritis akan menjadi layak namun dalam beberapa kemungkinan hal itu tidak bisa didapat:
d. Observasi individu tersebut berdasarkan tes yang distandarisasi
Apapun batasnya, berbagai tes standar masih merupakan instrumen utama pengukuran yang dilakukan klinisi sebaik psikolog lainnya. Tes ini mewakili kontribusi unik dan psikolog, baik sebagai peneliti behavioris maupun praktek studi klinis.
Proses : pengumpulan materi dengan terorganisasi, analisis dan interpretasi.
Output : hasil belajar dan orang yang mengkomunikasikannya dan keputusan sebagai tindakan klinis yang lebih lanjut.
ASPEK INTELEKTUAL
A. Definisi Inteligensi
Pengertian inteligensi menurut Wechsler, merupakan pembangkit atau kapasitas global individu untuk bertindak bertujuan, berpikir rasional dan berhubungan efektif dengan lingkungannya.
Menurut Rudolf Amathauer inteligensi adalah suatu struktur khusus dalam keseluruhan kepribadian seseorang, suatu kebutuhan yang berstruktur yang terdiri alas kemampuan jiwa-mental dan diungkapkan melalui prestasi, serta memberikan kemampuan kepada individu untuk bertindak.
Sumber inteligensi adalah genetika, lingkungan dan genetika-lingkungan. Yang dimaksud dengan genetika lingkungan adalah sintesis dari lingkungan dan genetic, ialah landasan inteligensi yang terjadi akibat adanya pengaruh lingkungan.
Berikut ini beberapa alat tes inteligensia yang umum di pakai :
1. Stanford-Binet Intelligence Scale.
2. Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)
Subtes performance, terdiri atas:
1). Digit Symbol (mengukur deksteriti visual-motor dan koordinasi motor halus, juga digunakan untuk mengindikasikan. taraf persistensi subyek dalam sticking atas tugas-tugas tidak menarik).
2). Picture Completion (mengukur diskriminasi visual, konsentrasi dan reasoning).
3). Block Design (mengukur nonverbal reasoning, kecepatan berprestasi dan koordinasi visual motor).
4). Picture Arrangement (mengukur kemampuan subyek untuk menggunakan persepsi visual yang akurat, melihat ke depan, merencanakan dan menafsirkan situasi sosial).
5). Object Assembly (mengukur analisis visual, kemampuan menyusun secara sederhana, kemampuan untuk menangani hubungan bagian-keseluruhan). Subtes ini melihat koordinasi visual motor lebih aktif daripada yang diukur Picture Arrangement.
B. WAIS/WBIS dalam Setting Klinis (Wiryawan)
Tes inteligensi yang bersifat khas karena individual (WAIS/WBIS) ditinjau dari setting klinis. meliputi pengukuran keterampilan verbal, dan pengukuran keterampilan tindakan (performance).
ASPEK KEPRIBADIAN
Assesmen kepribadian merupakan istilah yang umum dalam upaya untuk menemukan pola perilaku dan pola pikiran atau penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya. Dalam assesmen kepribadian pada dasarnya terdapat pembagian .menjadi projective assessment dan objective assessment.
A. Projective Assessment
Menurut Lindzey, teknik projective merupakan alat yang dianggap memiliki sensitivitas yang khusus untuk aspek perilaku yang tertutup, dan tak sadar, memungkinkan atau menggali varietas respon subyek yang luas, sangat multidimensional, dan menggali data respon yang kaya atau sangat kaya dan bersenyawa dengan kesadaran subyek yang minimum menyangkut tujuan dari tes.
Lindzey membagi alat tes proyektif yaitu :
Ø Asosiasi, ialah meminta subyek untuk mengasosiasikan atau menjawab stimulus yang diberikan pemerkasa, misalnya tes Rorscahch atau asosiasi kata. .
Ø Konstruksi Tes meminta subyek untuk membangun atau menciptakan cerita gambar. Tes konstruksi merupakan aktivitas kognitif yang lebih rumit daripada teknik asosiasi. Thematic Aperception Test merupakan salah satu contohnya. Dengan teknik penyempurnaan, dimaksudkan bahwa material tes merupakan sesuatu yang belum lengkap.
Ø Melengkapi. Cara melengkapinya diserahkan pada subyek. Sebagai misal adalah tes Picture Completion dan Warteg atau Sentence Completion Test dari Sullivan dan Murray.
Ø Memilih atau membuat peringkat
Ø Ekspresi. Contoh alat ukur proyektif yang ekspresif Bermain, menggambar, melukis, dan psikodrama dapat.
B. Objective Assessment
Pendekatan obyektif assesmen kepribadian merupakan usaha yang secara ilmiah berusaha menggambarkan karakteristik atau sifat-sifat individu atau kelompok sebagai alat untuk memprediksi perilaku. Menurut Butcher, 1971. ada tiga perbedaan mendasar antara assesmen proyektif dan assesmen obyektif. Pertama, assesmen proyektif menaruh perhatian kepada dinamika intrafisik sementara assesmen obyektif mencari deskripsi sifat. Yang dimaksud dengan deskripsi sifat ialah deskripsi kebiasaan seseorang atau gaya karakteristik.
Kedua tes proyektif bersifat samar-samar dan memiliki kebebasan untuk menjawab, sementara tes obyektif memiliki stimuli yang dirancang secara jelas dan meminta jawaban-jawaban yang terbatas.
Ketiga, isi respon tes proyektif secara tipikal ditafsir tiap orang tanpa referensi norms. Skor tes obyektif membandingkan hasil seseorang dengan orang-orang lainnya. Oleh karena itu, standarisasi sangat penting dalam tes obyektif. Secara singkat, assesmen obyektif merupakan pendekaan yang terstruktur, ilmiah, danzon subyektif dalam deskripsi individual.
Yang paling terkenal dalam pemakaian klinis, terutama di kalangan psikiatri, adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventori (MMPI), California Psychological Inventori (CPI), dan Sixteen Personaliy Factor Questionnair (16 PF).
1. Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)
Inventori ini dikembangkan oleh Hathaway dan McKinley, pada tahun 1942, dan terdiri dar 550 butir pernyataan yang dapat dijawab betul, salah, atau tidak dapat mengatakannya. Skor akan menggambarkan 4 skala validitas dan 10 skala klinis. Skor kemudian dikonversikan ke dalam T score dan ditempatkan pada profil MMPI. Skor T merupakan skor paling standar. Skor T 50 merupakan rata-rata untuk subyek populasi umum. Secara tipikal. berlandaskan distribusi normal skor T ini, 68.7 % pengisi tes akan mendapatkan skor T antara 40 dan 60. tidak ada makna klinis berhubungan dengan angka-angka dalam rentang rata-rata ini. Hanya 16 % skor yang lebih tinggi atau rendah dari skor T 60, dan skor lebih besar dari 60 yang termasuk 2 % normal. Skor ini sangat jarang mengindikasikan bahwa subyek menyimpang dari rata-rata.
2. California Psychological Inventory (CPI)
Inventor ini merupakan tes dengan 480 butir pertanyaan, yang terdiri dari 18 skala. Sedikit berbeda dengan MMPI, CPI mengandung pernyataanpernyataan yang berisikan pola perilaku dan perasaan, pendapat dan sikap sosial subyek mengenai etika sosial serta masalah keluarga. CPI terutama digunakan sebagai subyek yang tidak terganggu, normal dan lebih menampilkan karakter kepribadian daripada deskripsi diagnostik. Dengan demikian, CPI lebih bermanfaat untuk mendapatkan pemahaman subyek sebagai suatu pribadi dan kurang bermanfaat untuk menampilkan diagnosis.
ASPEK NEUROPSIKOLOGI
Assesmen neuropsikologis melibatkan pengukuran tanda-tanda perilaku yang mencerminkan kesehatan atau kekurangan dalam fungsi otak. Terdapat tiga kegiatan psikolog klinis dalam assesmen neuropsikologis, yaitu menyangkut fokus perhatian dalam assesmen ini, banyak tes neuropsikologis utama, dan bukti-bukti riset yang menyangkut reliabilitas dan validitas tes untuk assesmen neuropsikologis.
HASIL DISKUSI
Perbedaan dokumen pribadi dengan catatan kehidupan ?
a. catatan kehidupan dapat dibuat oleh diri sendiri maupun orang lain. Biasanya berbentuk catatan harian dan tidak melibatkan perasaan dan emosi di dalamnya, lebih menekankan pada apa yang dia lakukan.
b. Dokumen pribadi meliputi barang-barang yang dia buat sendiri yang memilki makna yang mendalam bagi dia. Dapat menggambarkan situasi psikis dan mental karena didalamnya terlibat perasaan dan emosi.
Apa perbedaan antara tes terstruktur dan tes tidak terstruktur ?
a. tes struktur sesuai dengan aturan dan tidak dapat diubah-ubah, sifatnya saklek (kaku). Yang diutamakan adalah reliabilitas dan validitas dalam tes tersebut.
b. Tes tidak terstruktur bersifat lebih jujur karena dapat fleksibel dan adanya keleluasaan dalam menjawab pertanyaan tes.
Menurut Mc. Reynold, 1975, assesmen ini pada dasarnya adalah usaha untuk mengukur individu dengan cara kembali ke belakang..
Menurut Kendall, 1982, assesmen klinis merupakan proses pengumpulan. informasi mengenai klien atau subyek untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang.
Dalam proses assesmen ini, klinikus memilih metode assesmen dan melaksanakan, memeriksa serta menafsir informasi yang telah dihasilkan.
GAMBARAN UMUMA. Alasan Assesmen
Alasan assesmen secara umum yang terdiri atas tiga maksud sebagai berikut:
1. Penyaringan dan diagnosis
2. Evaluasi dan intervensi klinis
3. Riset
Assesmen klinis adalah menyajikan kepada seseorang, informasi mengenai dirinya sendiri, sehingga membuat keputusan bagi diri mereka sendiri.
B. Sasaran Assesmen
Kemungkinan sasaran atau target yang akan diusahakan psikolog klinis, ia dapat memusatkan perhatian terhadap:
1. Disfungsi (psikologis), individual, memperhatikan abnormalitas atau kekurangan dalam aspek pikiran, emosi atau tindakannya.
2. Kekuatan klien, dalam hal kemampuan, ketrampilan atau sensitivitas yang menjadi target evaluasi.
3. Kepribadian subyek. Dalam hal ini bisa jadi ia akan menyelenggarakan tes, observasi dan interview untuk membantu menemukan kebutuhan, motivasi. pertahanan dan pola perilaku subyek.
C. Metode Assesmen
Psikolog klinis akan menggunakan satu ataupun kombinasi beragam metode assesmen yang meliputi wawancara, tes tulis terstuktur, tes tak terstruktur dan assesmen perilaku.
1. Wawancara
Dalam wawancara klinis pertama-tama adalah vokal, tetapi harus waspada mengenai pesan non verbalnya (seperti postur, gestur. dan ekspresi wajah).
Goldenberg, 1983, mengemukakan adanya empat tujuan umum wawancara klinis, ialah 1) memperoleh informasi tentang diri klien dan yang bersangkutan dengan hal itu, 2) memberikan informasi sepanjang dianggap perlu dan sesuai dengan tujuan wawancara, 3) memeriksa kondisi psikologis atau memberikan diagnosis klien dan 4) mempengaruhi, mengubah dan memodifikasi perilaku klien. Wawancara dengan dua tujuan terakhir disebut wawancara assesmen dan wawancara terapeutik.
Terdapat beberapa jenis wawancara, antara lain:
a. Wawancara mengenai status mental
b. Wawancara sosial-kfittis
c. Wawancara yang difraksikan
d. Wawancara terstruktur
2. Tes Terstruktur
Tes ini meminta subvek untuk menjawab pertanyaan secara tegas, ya atau tidak, dan maknanya uniform. Yang penting adalah memiliki reliabilitas dan validitas yang memadai dalam hal alat tesnya.. dan tendapat keseragaman dalam pelaksanaan tes maupun kejelasan subjek pengetesan atau biasa disebut testee.
3. Tes Tak Terstruktur,
Thematic Apperception Test (TAT) atau Rorschach Inkblot-test. Disebut tak terstruktur karena stimulus tesnya tidak membutuhkan jawaban yang ditentukan secara tegas dan jelas. Faktor pribadi testee sangat menentukan.
4. Assesmen-assesmen Keperilakuan (Behavioral Assessments)
Observasi ini dimaksudkan untuk: 1)mendapatkan informasi yang tidak diperoleh wawancara, 2) mengevaluasi ketepatan komunikasi verbal klien dan konsistensinya dengan komunikasi non-verbal dan 3) membuat kesimpulan' mengenai keadaan dalam, perasaan dan motivasi yang perlu mendapat perhatian khusus yang melahirkan perilaku klien.
5. Kunjungan Rumah
Memahami kehidupan alamiah klien di rumah dan keadaan serta pola kehidupan keluarga klien (relasi antar anggota keluarga dan perannya),
Terdapat enam keuntungan dari kunjungan rumah ini: 1) fungsi keseluruhan keluarga terlihat sebagaimana adanya, 2) setiap anggota keluarga lebih berpeluang untuk melaksanakan peran sehari harinya, 3) terdapat lebih sedikit kemungkinan untuk tidak hadirnya anggota keluarga dalam sesi terapi, 4) terdapat peluang untuk melihat seluruh keluarga dalam permasalahan, bukan hanya pada seseorang anggota saja, 5) terdapat kemungkinan untuk tidak merasa,cemas dalam lingkungan keluarga, sehingga lebih terbuka dan minimalnya perilaku dibuat-buat, dan 6) terapi yang berlaku terbebas dari hubungan formal dokter-pasien.
6. Catatan Kehidupan
Psikolog sering tertarik untuk mempelajari riwayat hidup klien, karena riwayat itu dapat mendasari permasalahan yang dialaminya saat ini. Catatan kehidupan ini bisa dalam bentuk buku harian yang berisikan catatan peristiwa kehidupan dan kesan-kesan pribadi yang diasumsikan membangun gambaran ini.
7. Dokumen Pribadi.
Bagi klinikus, adalah proyeksi yang dapat ditafsirkan Seperti dalam interview, yang diperlukan adalah keterampilan psikolog untuk menganalisis dan menafsirkannya.
8. Pemfungsian Psikofisiologis
Dalam gangguan psikofisiologis (gangguan psikosomatis) tercatat hampir semua organ tubuh dapat terganggu fungsinya oleh kondisi psikologis tertentu.
Tahap-Tahap dalam Proses Assesmen
Sundberg dan Tyler me njelaskan assesmen klinis dalam 4 proses besar, yaitu : Persiapan : dengan mempelajari masalah pasien, merundingkan penyerahan pertanyaan-pertanyaan dan merencanakan langkah-langkah yang lebih lanjut dalam assesmen.
Input : semua data tentang pasien dan situasinya yang dikumpulkan.
Ada 4 cara untuk mendapatkan informasi tentang seseorang, yaitu :
a. Tanya kepada orang itu sendiri Wawancara melibatkan memasukkan pertanyaan kepada klien yang mana isi mau dan bisa memberikan balasan langsung.
b. Tanya seseorang yang mengetahui orang tersebut
Teman, sahabat, keluarga, kekasih, guru, rekan kerja atau orang lain yang mengetahui informasi penting tentang seseorang dalam berbagai keadaan adalah sumber yang penting untuk mendapatkan informasi.
c. Amati individu ketika berperilaku secara normal
Untuk mendapatkan pengertian seluruhnya, pengamatan langsung serang klien dalam situasi kehidupan yang kritis akan menjadi layak namun dalam beberapa kemungkinan hal itu tidak bisa didapat:
d. Observasi individu tersebut berdasarkan tes yang distandarisasi
Apapun batasnya, berbagai tes standar masih merupakan instrumen utama pengukuran yang dilakukan klinisi sebaik psikolog lainnya. Tes ini mewakili kontribusi unik dan psikolog, baik sebagai peneliti behavioris maupun praktek studi klinis.
Proses : pengumpulan materi dengan terorganisasi, analisis dan interpretasi.
Output : hasil belajar dan orang yang mengkomunikasikannya dan keputusan sebagai tindakan klinis yang lebih lanjut.
ASPEK INTELEKTUAL
A. Definisi Inteligensi
Pengertian inteligensi menurut Wechsler, merupakan pembangkit atau kapasitas global individu untuk bertindak bertujuan, berpikir rasional dan berhubungan efektif dengan lingkungannya.
Menurut Rudolf Amathauer inteligensi adalah suatu struktur khusus dalam keseluruhan kepribadian seseorang, suatu kebutuhan yang berstruktur yang terdiri alas kemampuan jiwa-mental dan diungkapkan melalui prestasi, serta memberikan kemampuan kepada individu untuk bertindak.
Sumber inteligensi adalah genetika, lingkungan dan genetika-lingkungan. Yang dimaksud dengan genetika lingkungan adalah sintesis dari lingkungan dan genetic, ialah landasan inteligensi yang terjadi akibat adanya pengaruh lingkungan.
Berikut ini beberapa alat tes inteligensia yang umum di pakai :
1. Stanford-Binet Intelligence Scale.
2. Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS)
Subtes performance, terdiri atas:
1). Digit Symbol (mengukur deksteriti visual-motor dan koordinasi motor halus, juga digunakan untuk mengindikasikan. taraf persistensi subyek dalam sticking atas tugas-tugas tidak menarik).
2). Picture Completion (mengukur diskriminasi visual, konsentrasi dan reasoning).
3). Block Design (mengukur nonverbal reasoning, kecepatan berprestasi dan koordinasi visual motor).
4). Picture Arrangement (mengukur kemampuan subyek untuk menggunakan persepsi visual yang akurat, melihat ke depan, merencanakan dan menafsirkan situasi sosial).
5). Object Assembly (mengukur analisis visual, kemampuan menyusun secara sederhana, kemampuan untuk menangani hubungan bagian-keseluruhan). Subtes ini melihat koordinasi visual motor lebih aktif daripada yang diukur Picture Arrangement.
B. WAIS/WBIS dalam Setting Klinis (Wiryawan)
Tes inteligensi yang bersifat khas karena individual (WAIS/WBIS) ditinjau dari setting klinis. meliputi pengukuran keterampilan verbal, dan pengukuran keterampilan tindakan (performance).
ASPEK KEPRIBADIAN
Assesmen kepribadian merupakan istilah yang umum dalam upaya untuk menemukan pola perilaku dan pola pikiran atau penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya. Dalam assesmen kepribadian pada dasarnya terdapat pembagian .menjadi projective assessment dan objective assessment.
A. Projective Assessment
Menurut Lindzey, teknik projective merupakan alat yang dianggap memiliki sensitivitas yang khusus untuk aspek perilaku yang tertutup, dan tak sadar, memungkinkan atau menggali varietas respon subyek yang luas, sangat multidimensional, dan menggali data respon yang kaya atau sangat kaya dan bersenyawa dengan kesadaran subyek yang minimum menyangkut tujuan dari tes.
Lindzey membagi alat tes proyektif yaitu :
Ø Asosiasi, ialah meminta subyek untuk mengasosiasikan atau menjawab stimulus yang diberikan pemerkasa, misalnya tes Rorscahch atau asosiasi kata. .
Ø Konstruksi Tes meminta subyek untuk membangun atau menciptakan cerita gambar. Tes konstruksi merupakan aktivitas kognitif yang lebih rumit daripada teknik asosiasi. Thematic Aperception Test merupakan salah satu contohnya. Dengan teknik penyempurnaan, dimaksudkan bahwa material tes merupakan sesuatu yang belum lengkap.
Ø Melengkapi. Cara melengkapinya diserahkan pada subyek. Sebagai misal adalah tes Picture Completion dan Warteg atau Sentence Completion Test dari Sullivan dan Murray.
Ø Memilih atau membuat peringkat
Ø Ekspresi. Contoh alat ukur proyektif yang ekspresif Bermain, menggambar, melukis, dan psikodrama dapat.
B. Objective Assessment
Pendekatan obyektif assesmen kepribadian merupakan usaha yang secara ilmiah berusaha menggambarkan karakteristik atau sifat-sifat individu atau kelompok sebagai alat untuk memprediksi perilaku. Menurut Butcher, 1971. ada tiga perbedaan mendasar antara assesmen proyektif dan assesmen obyektif. Pertama, assesmen proyektif menaruh perhatian kepada dinamika intrafisik sementara assesmen obyektif mencari deskripsi sifat. Yang dimaksud dengan deskripsi sifat ialah deskripsi kebiasaan seseorang atau gaya karakteristik.
Kedua tes proyektif bersifat samar-samar dan memiliki kebebasan untuk menjawab, sementara tes obyektif memiliki stimuli yang dirancang secara jelas dan meminta jawaban-jawaban yang terbatas.
Ketiga, isi respon tes proyektif secara tipikal ditafsir tiap orang tanpa referensi norms. Skor tes obyektif membandingkan hasil seseorang dengan orang-orang lainnya. Oleh karena itu, standarisasi sangat penting dalam tes obyektif. Secara singkat, assesmen obyektif merupakan pendekaan yang terstruktur, ilmiah, danzon subyektif dalam deskripsi individual.
Yang paling terkenal dalam pemakaian klinis, terutama di kalangan psikiatri, adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventori (MMPI), California Psychological Inventori (CPI), dan Sixteen Personaliy Factor Questionnair (16 PF).
1. Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI)
Inventori ini dikembangkan oleh Hathaway dan McKinley, pada tahun 1942, dan terdiri dar 550 butir pernyataan yang dapat dijawab betul, salah, atau tidak dapat mengatakannya. Skor akan menggambarkan 4 skala validitas dan 10 skala klinis. Skor kemudian dikonversikan ke dalam T score dan ditempatkan pada profil MMPI. Skor T merupakan skor paling standar. Skor T 50 merupakan rata-rata untuk subyek populasi umum. Secara tipikal. berlandaskan distribusi normal skor T ini, 68.7 % pengisi tes akan mendapatkan skor T antara 40 dan 60. tidak ada makna klinis berhubungan dengan angka-angka dalam rentang rata-rata ini. Hanya 16 % skor yang lebih tinggi atau rendah dari skor T 60, dan skor lebih besar dari 60 yang termasuk 2 % normal. Skor ini sangat jarang mengindikasikan bahwa subyek menyimpang dari rata-rata.
2. California Psychological Inventory (CPI)
Inventor ini merupakan tes dengan 480 butir pertanyaan, yang terdiri dari 18 skala. Sedikit berbeda dengan MMPI, CPI mengandung pernyataanpernyataan yang berisikan pola perilaku dan perasaan, pendapat dan sikap sosial subyek mengenai etika sosial serta masalah keluarga. CPI terutama digunakan sebagai subyek yang tidak terganggu, normal dan lebih menampilkan karakter kepribadian daripada deskripsi diagnostik. Dengan demikian, CPI lebih bermanfaat untuk mendapatkan pemahaman subyek sebagai suatu pribadi dan kurang bermanfaat untuk menampilkan diagnosis.
ASPEK NEUROPSIKOLOGI
Assesmen neuropsikologis melibatkan pengukuran tanda-tanda perilaku yang mencerminkan kesehatan atau kekurangan dalam fungsi otak. Terdapat tiga kegiatan psikolog klinis dalam assesmen neuropsikologis, yaitu menyangkut fokus perhatian dalam assesmen ini, banyak tes neuropsikologis utama, dan bukti-bukti riset yang menyangkut reliabilitas dan validitas tes untuk assesmen neuropsikologis.
HASIL DISKUSI
Perbedaan dokumen pribadi dengan catatan kehidupan ?
a. catatan kehidupan dapat dibuat oleh diri sendiri maupun orang lain. Biasanya berbentuk catatan harian dan tidak melibatkan perasaan dan emosi di dalamnya, lebih menekankan pada apa yang dia lakukan.
b. Dokumen pribadi meliputi barang-barang yang dia buat sendiri yang memilki makna yang mendalam bagi dia. Dapat menggambarkan situasi psikis dan mental karena didalamnya terlibat perasaan dan emosi.
Apa perbedaan antara tes terstruktur dan tes tidak terstruktur ?
a. tes struktur sesuai dengan aturan dan tidak dapat diubah-ubah, sifatnya saklek (kaku). Yang diutamakan adalah reliabilitas dan validitas dalam tes tersebut.
b. Tes tidak terstruktur bersifat lebih jujur karena dapat fleksibel dan adanya keleluasaan dalam menjawab pertanyaan tes.
Langganan:
Postingan (Atom)